Great Way to Sell

Just another WordPress.com weblog

Archive for September 2007

Bisnis Telekomunikasi, semakin berdarah saja

with 5 comments

Operator CDMA kini didatangi pemain baru Smart. Sudah cukup berdarah-darah persaingan antara flexi dengan esia, kini muncul petarung baru. Dan lebih parahnya lagi, datang dengan sama-sama membanting harga.

Perang CDMA

Bagaimanapun pasti pelanggan sangat diuntungkan. Sampai kapan price war yang berdarah-darah ini akan berakhir? Belum dengan permasalahan tarif yang tidak transparan dan menjebak di bisnis telekomunikasi baik GSM maupun CDMA.

Saat ini operator CDMA sedang marak-maraknya berpindah ke frekuensi 800MHz eh SMART malah bermain di 1900MHz. Jelas dengan bedanya frekuensi ini tidak mengindikasikan kalau mereka bermain di pasar yang berbeda.

Siapakah yang menjadi pemenang dalam persaingan ini? Kita tunggu saja. Yang jelas tetap kita bahas di segi marketing-nya.

Written by greatwaytosell

September 29, 2007 at 4:39 am

Ditulis dalam marketing

Ditandai dengan , , , ,

Memaksa customer belajar

with 3 comments

Kalau mau mengetik dokumen pakai apa? pasti pakai Microsoft Word. Kalau mau menyusun laporan keuangan dan data statistik? pasti pakai Micorosoft Excel. Produk-produk microsoft ini telah menjadi top mind di customer.

Office 2007
Microsoft Office 2007

Semua orang pasti pernah mengenal Micorosoft Word dan Excel. Minimal pernah melihat bentuknya seperti apa. Dan bahkan model bentuk panel Aplikasi ini dipakai oleh Open Office, salah satu produk saingan Microsoft. Yang mendominasi yang menjadi trend setter. Semua seolah-olah harus mengikuti bentuk dari yang dimodelkan Microsoft.

Kita semua sering memakai produk microsoft ini, namun pernahkah mencoba produk office terbaru dari microsoft ini? Ya, Microsoft Office 2007. Apakah anda berminat untuk beralih dari versi lama (2003 paling tidak) ke versi 2007?

Banyak alasan yang memberatkan, diantaranya adalah spesifikasi komputer yang tidak cukup menjalankan program 2007 ini, mahal membelinya. Namun untuk Indonesia sepertinya cukup banyak bisa didapatkan versi bajakannya. Namun banyak yang mengeluh karena produk terbaru ini berbeda dengan produk sebelumnya. Dan perbedaan itu sangatlah drastis.

Mungkin dari segi fungsionalitas dasarnya tetap sama, namun dari segi tampilan ini sangatlah berbeda. Dan sepertinya microsoft kali ini memaksa customer untuk belajar lagi menggunakan sistem yang baru ini.

Beberapa diantaranya adalah tampilan menu pada Microsoft Word.

Peralihan pada Microsoft Word
Lihatlah pada pilihan menu
Entah alasan apa yang digunakan Microsoft, kalau pengguna beralih dari versi 2003 ke 2007 akan bingung mencari fitur-fitur yang sebelumnya biasa mereka gunakan. Lihat saja pada piliha menu yang berbeda. Pengguna akan banyak kebingungan. Dan pengguna musti banyak belajar menggunakan produk terbaru ini. Akhirnya pengguna malas beralih ke produk yang baru ini.

Padahal di perubahan-perubahan sebelumnya seperti dari 98 ke 2000, dari 2000 ke XP, dan dari XP ke 2003 perbedaanya sangatlah tipis. User dapat langsung menggunakannya.

Selain pada Microsoft Word, perubahan drastis juga terjadi pada Microsoft Access. Walaupun tetap dengan fungsionalitas yang sama, namun Microsoft Access 2007 lebih banyak mengadopsi dari tampilan-tampilan Aplikasi seperti MySQL Front dan EMS MySQL. Nampak jauh dari versi Microsoft Accesss sebelumnya.

Peralihan pada Microsoft Access
Peralihan dari Microsoft Access 2007 justru lebih dekat dengan aplikasi lain daripada Microsoft Access 2003

Perubahan drastis, terutama di masalah penampilan memang bertujuan mempercantik. Namun memaksa customer untuk belajar lagi. Dan ini menjadi sebuah tantangan bagi Microsoft. Sifat dasar manusia memang malas untuk berubah, apalagi kalau sudah terbiasa dengan sistem yang lama. Apabila menggunakan sistem yang baru pasti akan malas.

Seberapa cepatkah laju penyebaran produk terbaru Microsoft ini? Kita lihat saja nanti beserta strategi marketingnya.

Written by greatwaytosell

September 28, 2007 at 7:05 pm

Ditulis dalam marketing

Murah atau murahan?

without comments

Semakin hangat perang dua operator CDMA, yaitu Bakrie dan Telkom. Apalagi semakin gencarnya ekspansi jaringan Bakrie ke luar Jakarta-Bandung dan Jawa Barat, belum lagi dengar kabarnya ekspansi ke luar jawa.

Jelas di negara kita ini (kita tahu semua) kalau operator yang banyak digemari adalah operator yang memiliki tarif yang berkenan di hati pelanggan. Jelas (sekali lagi) price war seluler di Indonesia ini masih sangat berlaku.

Apakah selalu yang murah itu diminati? Dan apakah selalu yang murah itu adalah murahan? Walaupun judul tulisan ini adalah “murah atau murahan?”, tetapi saya tidak membahas siapa yang murah dan siapa yang murahan. Saya cuman akan membahas hubungannya dengan pengetahuan marketing (walau terbatas) yang saya punya.

Saat ini banyak operator yang menawarkan price yang sangat low. Jadi teringat iklan “How low can U go!“. Mulai dari yang tarif per detik sampe per jam sekian rupiah. Mulai yang pake syarat sampe yang tanpa syarat. Adakah bergaining lain ke masyarakat selain harga? Walaupun sekian banyak operator yang banting harga, namun kita ingat salah satu operator yang memiliki pelanggan terbanyak, yaitu si plat merah. Harga yang ditawarkannya pun tidak terlalu dibanting. Loyalitas pelanggan tetap banyak, malah berani mengusung isu nasionalisme kepada pelanggan. Walaupun banyak yang nge-dua-in dengan produk CDMA saudaranya namun banyak yang ‘rela mati’ gak mau ninggalin si plat merah ini. Kecuali mahasiswa yang emang doyannya ganti-ganti nomor hape, tergantung siapa yang berani kasih murah.

Jadi kalau kita berhasil diperebutkan dengan harga yang murah, bisa berarti juga kalau ada pesaing yang lebih murah, bisa jatuh ke laen hati. Sama ibaratnya dengan cinta ke pasangan, kalau alasan pasangan kita berpaling ke kita karena cantik, bisa jadi kalo menemukan yang lebih cantik berpaling ke yang laen. Loyalitas dengan harga murah apa bisa dibangun? sampai kapan bisa bertahan? Atau malah yang tidak murah tidak dapat bertahan?

Di satu sisi yang laen, apakah yang murah itu selalu murahan? Belum tentu. Begitu banyak hal yang dipertimbangkan dalam pricing, tentunya operator2 banting harga gak asal banting harga (latah) karena pesaing laen banting harga. Mereka memiliki strategi masing-masing. Dari mengemas pulsa menjadi talk time, sampe tarif per detik.

Tidak mau disebut murahan walau murah? Ada salah satu produk yang kalo kita ingat slogannya “Telpon rumah berasa hape, hape berasa telpon rumah“. Saya yakin anda mengerti. Slogan ini bermakna, telpon rumah sekarang bisa dibawa kemana-mana, dan yang dibawa kemana-mana ini tetep berasa pulsanya kayak telpon rumah. Nomornya kayak telpon rumah,tapi rasanya hape koq bisa dibawa kemana-mana ya. Harganya pun PASTI! Sure Price! (eh kelepasan).
Kalau diperhatikan emang tidak ada kata-kata “murah” dalam slogan tersebut. Murah memang, tapi kita tetap tidak mau dibilang murahan (begitu katanya). Namanya juga dunia marketing, saling adu kekuatan untuk bangun persepsi.

Bagaimanapun dalam dunia bisnis, bukanlah dari segi pemasaran saja bisnis ini bisa bertahan. Masih banyak aspek2 lain yang mempengaruhi.

Kalau mau entengnya saja, kita sebagai pelanggan ada price war seperti ini ikut aja, pelanggan pasti diuntungkan. He he he. Dasar.

Tetep aja How Low Can U Go!

Written by greatwaytosell

September 12, 2007 at 6:25 am

Ditulis dalam marketing

Es Coret, Es Teler, Es Oyen, Es apalagi?

with 2 comments

Apalah arti sebuah nama? Begitu kata pepatah. Kalo kita bahas di segi Marketing Communication, ini sangat berarti. Bahkan nama bisa menjadi suatu soul tersendiri (terutama dalam hal branding) untuk produk/perusahaan.

Teringat pengalaman makan es coret. Begitu pertama kali mendengar apa itu es coret? Langsung awareness di otak ini meningkat. Begitu pula pertama kali datang ke Bandung, mendengar banyak istilah jajanan yang aneh-aneh, dari Es Oyen, Es Doger, Es Goyobod, sampe Cimol. Alamak jenis makanan apa itu? Walau tertipu dengan cerita es coret, namun ini menginspirasi untuk menulis tentang nama produk.

Jajanan di Indonesia ini terkadang dinamai dengan hal-hal yang lucu/aneh, bahkan ada beberapa yang tidak memiliki arti, namun karena terdengar lucu jadi memiliki awareness yang tinggi di masyarakat.

Lantas bagaimana? Pintarlah dan cerdiklah memilih nama produk, terkadang ’sedikit ndeso’ malah lebih menguntungkan. Kalau kata tukul “Biarlah Orang Ndeso, tapi Rejeki Kuto”.

Written by greatwaytosell

September 9, 2007 at 5:37 am

Ditulis dalam marketing