Murah atau murahan?
Semakin hangat perang dua operator CDMA, yaitu Bakrie dan Telkom. Apalagi semakin gencarnya ekspansi jaringan Bakrie ke luar Jakarta-Bandung dan Jawa Barat, belum lagi dengar kabarnya ekspansi ke luar jawa.
Jelas di negara kita ini (kita tahu semua) kalau operator yang banyak digemari adalah operator yang memiliki tarif yang berkenan di hati pelanggan. Jelas (sekali lagi) price war seluler di Indonesia ini masih sangat berlaku.
Apakah selalu yang murah itu diminati? Dan apakah selalu yang murah itu adalah murahan? Walaupun judul tulisan ini adalah “murah atau murahan?”, tetapi saya tidak membahas siapa yang murah dan siapa yang murahan. Saya cuman akan membahas hubungannya dengan pengetahuan marketing (walau terbatas) yang saya punya.
Saat ini banyak operator yang menawarkan price yang sangat low. Jadi teringat iklan “How low can U go!“. Mulai dari yang tarif per detik sampe per jam sekian rupiah. Mulai yang pake syarat sampe yang tanpa syarat. Adakah bergaining lain ke masyarakat selain harga? Walaupun sekian banyak operator yang banting harga, namun kita ingat salah satu operator yang memiliki pelanggan terbanyak, yaitu si plat merah. Harga yang ditawarkannya pun tidak terlalu dibanting. Loyalitas pelanggan tetap banyak, malah berani mengusung isu nasionalisme kepada pelanggan. Walaupun banyak yang nge-dua-in dengan produk CDMA saudaranya namun banyak yang ‘rela mati’ gak mau ninggalin si plat merah ini. Kecuali mahasiswa yang emang doyannya ganti-ganti nomor hape, tergantung siapa yang berani kasih murah.
Jadi kalau kita berhasil diperebutkan dengan harga yang murah, bisa berarti juga kalau ada pesaing yang lebih murah, bisa jatuh ke laen hati. Sama ibaratnya dengan cinta ke pasangan, kalau alasan pasangan kita berpaling ke kita karena cantik, bisa jadi kalo menemukan yang lebih cantik berpaling ke yang laen. Loyalitas dengan harga murah apa bisa dibangun? sampai kapan bisa bertahan? Atau malah yang tidak murah tidak dapat bertahan?
Di satu sisi yang laen, apakah yang murah itu selalu murahan? Belum tentu. Begitu banyak hal yang dipertimbangkan dalam pricing, tentunya operator2 banting harga gak asal banting harga (latah) karena pesaing laen banting harga. Mereka memiliki strategi masing-masing. Dari mengemas pulsa menjadi talk time, sampe tarif per detik.
Tidak mau disebut murahan walau murah? Ada salah satu produk yang kalo kita ingat slogannya “Telpon rumah berasa hape, hape berasa telpon rumah“. Saya yakin anda mengerti. Slogan ini bermakna, telpon rumah sekarang bisa dibawa kemana-mana, dan yang dibawa kemana-mana ini tetep berasa pulsanya kayak telpon rumah. Nomornya kayak telpon rumah,tapi rasanya hape koq bisa dibawa kemana-mana ya. Harganya pun PASTI! Sure Price! (eh kelepasan).
Kalau diperhatikan emang tidak ada kata-kata “murah” dalam slogan tersebut. Murah memang, tapi kita tetap tidak mau dibilang murahan (begitu katanya). Namanya juga dunia marketing, saling adu kekuatan untuk bangun persepsi.
Bagaimanapun dalam dunia bisnis, bukanlah dari segi pemasaran saja bisnis ini bisa bertahan. Masih banyak aspek2 lain yang mempengaruhi.
Kalau mau entengnya saja, kita sebagai pelanggan ada price war seperti ini ikut aja, pelanggan pasti diuntungkan. He he he. Dasar.
Tetep aja How Low Can U Go!
