Gak perlu pintar untuk minum obat masuk angin
Beberapa hari ini selalu ketawa memperhatikan iklan salah satu obat masuk angin Bintangin. “Gak perlu pintar untuk minum obat masuk angin”, ini menyerang jargon yang dipunya tolak angin “Orang pintar minum tolak angin”.
Apa strategi di balik ini? Kalo kita berpikir, ini adalah jargon yang menyerang untuk menjatuhkan merek lain. Namun kalo kita paham dan cermati lebih teliti lagi, justru ini adalah suatu metode untuk memposisikan produk kita sejajar dengan produk lain. Ini adalah metode untuk positioning.
Beberapa contoh yang dapat kita lihat melalui beberapa kasus yang serupa diantaranya
Extra Joss vs Kratingdaeng
Masih ingatkah kita dengan jargon Extra Joss waktu pertama kali keluar? “Ini biangnya buat apa botolnya”. Inilah yang membuat posisi Extra Joss melejit dan mempersepsikan orang bahwa extra joss sejajar dengan Kratingdaeng. Sehingga membuat para penikmat Kratingdaeng untuk beralih ke Extra Joss. Seolah-olah kualitas Extra Joss sama dengan Kratingdaeng. Coba pertama kali Extra Joss keluar dengan sachet tanpa mengeluarkan jargon tersebut, Extra Joss tak akan semelejit ini.
Mentari vs XL
Sebelum kasus Temasek, masih ingatkah kita dengan iklan XL 1rp/detik yang dibawakan oleh seorang model cantik memakai kaos oranye bertuliskan 1rp/detik? Hal ini dilawan oleh Mentari dengan 0rp/detik dengan memakai model cantik pula. Kalau kita lihat Mentari mencoba mengimitasi persepsi di masyarakat dengan membuat semacam image yang sama dengan XL. Ini strategi marketing Mentari untuk mengangkat posisinya, bahwa “Saya Mentari sejajar loh dengan XL”.
Kembali ke tentang Bintangin, lebih geli ketawa waktu mendengar di iklan, “Situ karyawan?”, “Berapa jumlah karyawan di dunia ini?”, “Siapa karyawan pertama yang masuk angin?”, ha ha ha….. ketawa geli mendengar serangkaian pertanyaan tersebut. “Siapa blogger pertama yang masuk angin?” boleh juga tuh

Siapa blogger pertama yang masuk angin?
Bukan Saya, Pak!, sungguh! bukan saya
ardianto
Januari 16, 2008 at 9:27 am