Archive for September 2008
Cukup Merasa Aman dengan hanya CDMA?
Kini tak jarang orang memiliki handphone aktif lebih dari satu. Rata-rata adalah pengguna GSM dan CDMA bebarengan. Salah satu yang menjadi daya tarik adalah tarif yang lebih murah. Atau karena pengguna mengikuti sebuah komunitas dimana rata-rata komunitas tersebut didominasi oleh salah satu operator. Biasanya adalah rekanan di kantor, kampus, sekolah, organisasi, sampai pasangan.
Dan yang mendapatkan positioning sebagai telepon yang (lebih) murah adalah operator-operator CDMA. Lantas harga sudah murah mengapa masih mendobel dengan GSM (rata-rata yang dilakukan orang)? Apakah tidak cukup dengan memakai satu operator saja, CDMAnya saja mungkin?
Ternyata menurut survey kecil yang penulis lakukan di lingkungan sekitar, beberapa alasan yang mereka lontarkan adalah
- “Nanti kalau keluar kota bagaimana?”
Padahal sebenarnya operator-operator CDMA telah melengkapi produknya dengan fitur migrasi sementara keluar kota seperti COMBO pada Flexi dan GOGO pada ESIA. - “Waduh, saya gak pede cuman pakai CDMA. Takut nanti gak bisa dihubungi?”
Apa maksudnya tidak bisa dihubungi? Toh sekarang BTS yang dibangun sudah banyak. Jaringan sudah cukup luas (di kota besar) dan cukup kuat (di kota besar juga). Malah di beberapa indoor building sudah ditanami penguat/pemancar sinyal tambahan untuk beberapa operator.
Ternyata CDMA belum bisa merebut positioning sebagai primary contact number. CDMA belum bisa memberikan rasa aman dan kepercaaan diri di pelanggan untuk dijadikan satu-satunya contact number (kecuali memang terpaksa hanya mampu beli satu).
Contoh saja pada diri kita, kalau kita bertukar contact number maka pasti yang kita berikan pertama kali adalah nomor GSM, baru setelah itu kalau ditanya nomor CDMAnya baru bertukar. Positioning yang masih lemah ini harus didukung dengan infrastruktur jaringan/teknologi yang lebih mantap lagi serta mengkomunikasikan kepada pelanggan bahwa CDMA dapat diandalkan dan memberikan rasa aman.
Pandangan Masyarakat Tentang CDMA
Ok sebelum mulai membaca lebih lanjut artikel saya berikut, ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan.
“Apa yang ada di benak Anda tentang telepon CDMA?” Sebutkan 3 hal, dan ingat baik-baik.
Saya pernah melakukan survey kecil sendiri terhadap teman-teman di sekitar, sebagian besar jawaban mereka adalah “telepon murah, handphone murah, dan dalam kota“
Yang pertama telepon murah, mengapa demikian? Memang menurut sumber yang beberapa kali pernah saya tanyakan, teknologi CDMA ternyata menggunakan cost yang lebih murah dibandingkan dengan penyelenggaraan jasa GSM. Dan tak jarang yang mempersepsikan sebagai “Telepon Rumah berasa handphone, Handphone yang berasa telpon murah“. Jadi di benak masyarakat adalah CDMA sebagai solusi bertelekomunikasi murah.
Kemudian Handphone Murah. Loh kenapa bisa dikaitkan dengan perangkat, sedangkan yang kita tanyakan adalah jasa telekomunikasi. Saat ini para pebisnis operator CDMA melakukan strategi bundling starter pack CDMA dengan handphone murah. Bahkan beberapa mengatakan “beli starter pack/ pulsa gratis handphone“. Akhirnya sampai sekarang hampir semua penjualan selalu dibundling dengan handphone murah. Hal ini yang semakin merangsang persepsi masyarakat bahwa CDMA adalah solusi komunikasi murah (semoga tidak tercap murahan).
Bahkan penulis pun kadang sering bingung setiap melihat promo penjualan CDMA, Ini jualan nomor atau jualan handphone.
Yang ketiga adalah “dalam kota“. Mengapa demikian? karena sebagian besar menggunakan nomor berawalan kode daerah, seperti 02270xxxxxx. Sampai dengan paragraf ini secara tidak sadar Anda pasti masih berpikir demikian, padahal masih ada operator lain yang tidak menggunakan penomoran seperti itu. Saya sebutkan saja salah satunya adalah Fren. Fren memang memegang lisensi selular.
Sebenarnya yang dimaksud dengan CDMA adalah sebuah teknologi telekomunikasi Code Division Multiple Access. Tetapi nampaknya sudah bergeser di benak masyarakat. Bahwa fren tidak termasuk sebagai CDMA, silakan saja tanyakan orang-orang awan di sekitar Anda untuk menyebutkan operator-operator mana saja CDMA itu. Pasti kebanyakan menjawab Flexi atau Esia, memang keduanya adalah market leader CDMA dan kebetulan memang menggunakan penomoran seperti PSTN. Brand di benak masyarakat nampaknya telah berubah.
Sehingga kalau kita berbincang tema tentang CDMA pasti mengarah kepada kedua operator besar yaitu Flexi dan Esia. Salah kaprah ini memang sudah menjadi common isue yang akhirnya menjadi pembenaran di masyarakat bahwa CDMA adalah ‘telpon rumah berasa handphone’. Sehingga justru mempersempit scope pemikiran tentang flexibilitas CDMA untuk dibawa kemana-mana sekalipun luar kota. Padahal sudah ada fitur untuk flexibilitas ke luar kota seperti halnya COMBO pad Flexi dan GOGO pada Esia.
Begitulah Indonesia dengan berbagai macam keunikannya. Seperti bilang ‘odol’ untuk pasta gigi padahal ‘odol’ itu ternyata adalah sebuah merek, dan bilang ’sanyo’ untuk pompa air.
Nampaknya menjadi sebuah tantangan bagi penyelenggara jasa telekomunikasi CDMA untuk mengangkat persepsi di masyarakat bahwa CDMA adalah solusi murah (semoga tidak murahan) yang berimbas terhadap persepsi bahwa ‘yang murah kurang bisa dihandalkan’ padahal belum tentu kualitasnya jelek. Apa memang demikian? Who knows? Pelangganlah yang lebih bisa menjawabnya.
